Keberhasilan dakwah di madinah tak terlepas dari sosok sahabat nabi, yang bernama MUSH'AB BIN 'UMAIR
beliau adalah salah satu sahabat nabi. Sebelum masuk hidayah tertanam didadanya, beliau adalah seorang pemuda tampan, anak seorang bangsawan dan hartawan. pemuda yang menjadi buah bibir warga mekah, khususnya para wanita.

Ia lahir dan dibesarkan dalam kesenangan, dan tumbuh dalam lingkungannya. Mungkin tak seorangpun diantara anak-anak muda Mekah yang beruntung dimanjakan oleh kedua orang tuanya demikian rupa sebagai yang dialami Mush'ab bin Umair
sampai akhirnya hidayah Allah datang kepada beliau. dan beliau masuk islam dalam usia yang masih muda, sekira 24 tahun
berbagai kesenangan dunia dia tanggalkan. harta kekayaan dia tinggalkan, kemegahan dia lucutkan. demi memilih islam sebagai dien nya
ada dialog menarik antara Mushab bin umari dengan ibunya
"Dengan murka dan naik darah ibunya menyahut :
"Demi bintang! sekali-kali aku takkan masuk ke dalam Agamamu itu. Otakku bisa jadi rusak, dan buah pikiranku takkan diindahkan orang lagi".
Bahkan ibunya mengancam, "Aku akan mogok makan sampai mati jika kamu tak mau kembali ke agama nenek moyang."
Bergetarkah Mush'ab? Ternyata tidak. Karena menyangkut aqidah, iapun bersumpah, "Wahai ibu, walau ibu bernyawa seribu. Dan satu persatu nyawa ibu tercabut di hadapanku, aku tetap takkan murtad dari Islam."
Demikianlah seorang Mush'ab yang memilih hidup miskin dan sengsara demi Islam sebagai tuntunan hidupnya


Ada juga kisah menarik:

Pada zaman Rosulullah saw, ada seorang muda bernama Al Qomah. dia sangat
kuat dalam perjuangannya, hingga oleh sahabat Annas disebutkan sebagai
"Syadidil Ijtihad - 'Adhimush Shodaqoh"

Pada suatu ketika ia sakit keras yang tak ada harapan untuk sembuh.
Istrinya lalu mendatangi Rosulullah saw. Diutuslah kemudian empat
sahabat Nabi saw untuk mengetahui keadaan Al Qomah, yakni:
1. Bilal
2. Ali
3. Salman Al Farisi
4. Amar

Oleh para sahabt tsb, Al Qomah langsung diajarkan kalimah tauhid:
Laa ilaa ha illalloh

Tetapi Al Qomah lidahnya tak bisa mengucapkan kalimah tsb, walaupun
telah dicoba berulangkali.

Keempat sahabat kemudian menghadap Rosululloh saw dan menyampaikan
situasi tersebut.

Rosululloh lalu menanyakan apakah Al Qomah masih memiliki ibu bapak?
Bilal menjawab bahwa ia masih memiliki seorang ibu yang telah berusia
lanjut.

Bilal lalu diperintahkan menyampaikan perilah Al Qomah kepada ibunya,
maka berangkatlah ia. Sesampainya di tempat Bilal menyampaikan salam
dari Rosulullah saw lalu menyampaikan pesan beliau.

Singkat cerita, ibu Al Qomah lalu menghadap Rosulullah saw dan
menceritakan bahwa Al Qomah lebih mementingkan istrinya daripada ibunya.

Rosululloh saw lalu memerintahlan bilal untuk mengumpulkan kayu bakar
untuk membakar Al Qomah.

Ibu Al Qomah yang masih mencintainya menangis melarang anaknya dibakar.

Rosululloh saw bersabda bahwa siksaan Alloh lebih dahsyat dan lebih
kekal kepada orang yang durhaka kepada ibunya. Jika ibu Al Qomah mau
memaafkan dan rido pada anaknya maka Alloh akan memaafkan dan
meridloinya. Tidak ada manfaatnya segala amal dan shodaqoh Al qomah
selama masih ada dosa durhaka kepada ibunya.

Maka ibu Al Qomah memaafkan dan memberikan ridlo kepada anaknya.

Kemudian diutuslah bilal untuk melihat Al Qomah, apakah ia sudah bisa
mengucapkan kalimah tauhid? Bilal pun berangkat. Setalah sampai, ia
mendengarkan Al Qomah bisa mengucapkan kalimah tauhid: Laa ilaa ha
illalloh dengan lancar.

Demikianlah kemudian, Rosululloh saw datang menjenguk mayat Al Qomah,
memerintahkan utnuk memandikan dan mengkafaninya lalu disholatkan.

Rosululloh saw lalu berdiri di tepi kibirnya dan bersabda:

"'Wahai kaum Muhajirin dan kaum Anshor, barangsiapa yang melbihkan
istrinya dan mengalahkan kepada ibunya, maka tentulah lakant Alloh
kepadanya, dan tak akan diterima daripadanya amal-amal ayng wajib maupun
sunnat".

@ RUD

0 komentar:

Posting Komentar

About this blog

Tengoklah kembali perjalanan Anda saat ini, akan menuju kemana? Apakah ke arah yang lebih baik, atau ke arah yang lebih buruk, atau tetap saja seperti saat ini? Tetapkanlah sebuah putusan dan jalanilah menuju konsekuensinya.

Potensial pilihan Anda begitu melimpah, keputusan Anda dapat saja merubah hidup Anda secara dramatis dalam waktu singkat.

Hanya satu motivasi yang ada, yaitu Allah. Adapun motivasi lainnya harus dalam rangka “karena dan/atau untuk” Allah.